Wednesday, September 13, 2006

Waktu adalah Amanah

Mungkin pernah mendengar kata-kata diatas. Saya sendiri berusaha menjaga waktu sebaik mungkin. Perencanaan yang baik dan effisien akan memaksimalkan penggunaan waktu dan hasil yang baik pula. Problem utama adalah pada saat kebiasaan menggunakan waktu sering di langgar. Pelanggaran biasanya akibat dianggap sebuah pekerjaan penting atau tidak.
So.... Anggap lah semua perencanaan yang sudah di set begitu penting buat kehidupan. Jagalah waktu sebagai amanah. Mungkin itu akan lebih baik.

Misteri Ciuman

Pernah nggak dicium ?
Banyak loh rahasia yang terpendam.

Thursday, September 07, 2006

Anak-anakku


Anakku sudah 2 orang. Yang pertama Naila dan yang kedua Nafis. Jarak umur keduanya sekitar 18 bulan. Dekat sekali yah... Tapi memang sudah rejekinya. Setelah melahirkan anak pertama, memang tidak melakukan KB karena takut nanti sulit mendapatkan anak lagi. Jadi berjalan normal saja. Istilahnya KB alamiah lah....

Sekarang Naila sudah 5 tahun. Sudah sekolah di TK-B. Sedang Nafis baru playgroup. Wah sudah terasa tua sekali. Kebutuhan untuk sekolah semakin besar. Cita-citaku, semoga mereka bisa bersekolah sampai S1 universitas.

Saat ini mereka sedang membutuhkan perhatian yang besar. Kadang karena pertemuan setiap hari sedikit, mereka rela menunggu papanya sampai pulang kerja sampai jam 21-an. Rasa kangen terobati bila pada saat telpon siang hari terdengar celoteh dari balik telpon. Hmmmm ... smoga mereka mengerti apa yang papa/mama lakukan untuk bekerja dan kepentingan mereka di masa depan. Ya Allah jadikanlah mereka anak yang sholeh/sholeha, yang cerdas, dan berakhlak mulia. Amin...

Keharuan melihat kabah

Waktu itu sekitar jam 12-an malam tanggal 26 des 2005. Langkah kaki rombongan yayasan kami berjalan dari maktab menuju Masjidil Haram. Berjalan kaki lumayan jauh, sekitar 2 km. Kehidupan kota mekah malam itu seperti siang hari. Yang hilang malam itu adalah sedikitnya lalu lalang mobil2 macet.

Sembari melantunkan zikir, rombongan terus berjalan. Rasa heran menyelimuti hatiku. Rumah-rumah, toko-toko, dan mobil yang diparkir model arab. Banyak orang berdiri menawarkan barang padahal waktu itu sudah larut. Ada juga pengemis yang menadahkan tangan sembali berbicara "Fisabilillah". Tangan atau kaki yang buntung terlihat di setiap pengemis. Apakah mereka kena hukuman karena mencuri ? hmmmm... keadaan cacat yang membuat mereka mengemis.

Setelah berjalan sekitar 15 menit, mulailah terlihat sinar terang ke atas langit. Terdengar sayup-sayup suara orang membaca alquran. Aku melihat besarnya bangunan yang selama ini terpampang di gambar-gambar di rumah atau di masjid. Apabila melihat gambar, mungkin tidak ada pesona apapun. Tapi ini lain, aku melihat penuh keharuan. Dari halaman masjid, aku sudah mulai berdoa. Mataku tidak bergeming dan terdiam melihat keindahan bangunan itu. Ya allah berilah keagungan bagi Masjidil Haram dan keberkahan bagi siapapun yang mengunjunginya.

Beberapa saat kemudian, aku mulai masuk ke dalam masjid. Kaligrapi dan tiang-tiang tinggi menjulang ke atap. Lantai marmer yang mengkilap bersih, seperti setiap waktu dicuci/pel. Jumlah jamaah yang tidak pernah sepi. Ya allah, aku bersyukur telah bisa bersujud di dalam rumah mu baitullah. Setelah Shalat sunah tahiyatul masjid, aku berdoa. Tidak terasa meleleh air mata. Keharuan dan rasa syukur karena sudah diberikan kesempatan bisa bersyujud di Baitullah.

Setelah puas shalat sunah, aku dan rombongan mulai berjalan masuk lebih jauh lagi. Kulihat bangunan hitam yang selama ini terbayang-bayang pada saat shalat. Ya itulah Kabah... Tidak ada sepatah katapun yang keluar.... Sempat mataku dipejamkan karena tidak percaya. Tapi tetap saja keinginan ingin mendekat. Tapi saat itu tidak bisa karena banyaknya barisan orang-orang tawaf. Sambil berdiri aku berdoa, menangis dan sujud syukur karena untuk pertama kalinya dalam hidupku bisa bertemu langsung dengan rabbku...
Ya Allah Ampuni aku.... Aku datang kesini karena menunaikan kewajibanku....
Terimalah segala amal ibadahku...

Berhaji Yuk ....


Banyak orang bercita-cita ingin berhaji. Cuma caranya bagaimana yah ? Saya sedikit ingin sharing, mungkin akan berguna.

Awal-awalnya juga nggak bermimpi bisa berhaji di waktu muda. Waktu itu setelah mengantar ibu berhaji yang kedua kali bercita-cita ingin sekali berangkat. Namun karena uang masih terbatas jadi hanya sebatas impian saja. Di tahun berikutnya kakak tertua saya berhaji bersama istrinya. Sejak itu, keinginan semakin menggebu. Membaca buku-buku tentang manasik haji sempat membuat bermimpi. Bahkan pernah sempat bermimpi naik pesawat terbang. Terus saudara sempat bertanya, "Emang darimana ? Aku jawab aja habis menunaikan ibadah Haji". Ha...3x hanya dalam mimpi...

Untuk menwujudkan impian itu, saya mulai bertanya-tanya tentang tahapan-tahapan bagaimana cara pergi haji. Pertama-tama, saya memulai dengan membuat tabungan haji di sebuah bank. Dengan tertib saya menabung setiap bulan 500 Ribu. Ini saya lakukan agar tidak membuat kacau cashflow keluarga. Setelah 1 tahun menabung, lumayan juga uang yang terkumpul. Selain itu ada kelebihan rejeki dari kontrakan rumah. Tabungan semakin lama semakin banyak.

Menjelang tabungan berjumlah 20 juta, barulah saya mencoba bertanya-tanya ke Yayasan (KBIH). Disana dijelaskan prosedur-prosedur naik haji. Kemudian yayasan itu yang mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan keberangkatan haji. Alhamdulillah sekarang saya sudah melaksanakan haji di tahun 2006/1426H. Cita-cita saya sudah terwujud.

Ternyata tidak ada yang sulit. Selagi kita berusaha giat dan berdoa dengan khusyu, insya Allah akan terwujud.
Hayo... jangan tunda-tunda lagi. Selagi masih muda dan tanggungan ekonomi belum besar.

Semoga allah selalu menjaga kemabrulan haji saya. Amin...

Wednesday, September 06, 2006

Introspeksi Kebiasaan

Kalau kita berbicara masalah kebiasaan tak lepas dari hal-hal yang sering kita lakukan sehari-hari. Kebiasaan baik akan memperkuat pribadi seseorang dan seseorang akan berperilaku baik. Kebiasaan buruk kadang juga sulit dibuang dari kehidupan kita sehari-hari. Kebiasaan ibarat benang. Apabila kebiasaan2 sering kita lakukan akan menjadi tambang. Dan apabila terus kita lakukan lagi akan melilit orang yang melakukannya.

Awalnya, apabila kita ingin melakukan kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk akan terasa berat sekali. Contoh saja, seorang muslim mencoba untuk bangun lebih pagi agar bisa menjalankan ibadah sholat sunah sebelum subuh. Pastilah kebiasaan ini akan sulit sekali. Tapi lama-kelamaan akan dimudahkan oleh allah dengan didukung oleh kuatnya keinginan kita untuk terus melakukan. Seseorang yang sudah sakit paru-paru/jantung karena akibat rokok yang biasa dia hisap setiap hari tidak menyebabkan dia sadar dan berhenti dari merokok.

Kalaulah kita cepat menyadari dan introspeksi akan semua aktivitas kita sehari-hari, cobalah kita hitung untung dan ruginya. Mungkin setelah introspeksi akan terlihat kebiasaan mana saja yang baik dan buruk. Cobalah tingkatkan kebiasaan2 yang baik dan tinggalkan kebiasaan yang buruk. Celakalah buat orang-orang yang akan terus melakukan kebiasaan buruk dan terbawa sampai ke liang kubur. Terus lah berdoa agar kita terhindar dari hal-hal yang buruk.

Friday, September 01, 2006

Bekerja bukan untuk coding aja

Hari gini masih coding ? ya itulah kata-kata yang pernah terdengar. Coding kadang menjadi pilihan hidup seseorang. Apalagi suara dari seseorang yang pernah bangga sebagai orang yang dulunya pandai dan maniak coding. Harga diri seperti hancur karena gara-gara tidak coding. Tapi mau gimana lagi, hidup harus berjalan terus.

Ada benarnya juga sih kata-kata itu. Tapi kita harus bisa bijak menanggapinya. Mungkin cara pandangnya bisa dilihat dari sudut yang berbeda-beda. Buat saya yang saat ini sbagai koordinator sysdev memandang bahwa coding tinggal 50% dari porsi pekerjaan saat ini. Tapi buat teman-teman yang bekerja sebagai programmer analyst mungkin porsinya masih 100% coding.

Seiring bertambahnya umur dan karir, seorang programmer bukan saja coding terus, tapi juga harus memikirkan tentang masa depannya. Kemampuan dalam berkoordinasi, memanage operasional atau pandai mengimplementasikan system dengan jumlah user yang banyak sekali. Disinilah kita perlu jeli dalam mencari peluang. Sebab kalau kita terus terbelenggu dengan pola pikir bahwa coding adalah pilihan jalan hidup maka jumlah pengalaman kita tidak akan bertambah.

Aku hanya berharap bahwa semua bagian pekerjaan dibidang IT software harus dicoba dan dirasakan semua. Ini penting karena kita perlu pengalaman. Spesialisasi bidang tertenten memang penting. Tapi kenapa sih kita tidak menggali pengalaman itu. Cobalah perhatikan apabila syarat recruitment perusahaan besar dalam mencari seorang IT manager. Bisa hardware, network, dll dan mengerti tentang SDLC pengembangan software.
So mau nunggu apa lagi. Kesempatan lebar terbentang.
Temanku cobalah ....
Toh pengalaman adalah guru yang terbaik.

Tips Menabung

Saat ini kebutuhan uang tak terduga sering terjadi. Apakah karena anak sakit atau kebutuhan2 lainnya. Aku sendiri berusaha menyiasati dengan cara menabung. Diawal2 dulu bekerja dengan gaji yang kecil, menabung menjadi keharusan. Karena mikirnya takut ada kebutuhan mendadak. Dulu aku belum punya istri/anak, nabungnya giat sekali loh. Bahkan pada saat aku menikah, aku berusaha tidak meminta orang tua untuk report2 untuk urusan uang. Menabung memang sangat bermanfaat.

Sekarang aku sudah menikah dan mempunyai anak. Kadang kalau untuk menabung suka lupa, karena kebutuhan uang di awal bulan sudah menunggu untuk direalisasikan. Untuk mengatasi hal itu, biasanya di sekitar tanggal 20-an, aku sudah menghitung-hitung besarnya cost di awal bulan. Kebutuhan2 yang belum perlu banget aku geser ke bulan berikutnya. Sampai aku yakin bahwa barang yang aku butuhkan memang sudah saatnya untuk dibeli dan sangat diperlukan. Nah dari situlah kita akan yakin dapat menabung dengan komitmen yang tinggi.

Alhamdulillah sampai saat ini aku masih terhindar dari hutang. Karena memang sudah cita-cita. Yang paling penting lagi diperlukan komitmen antara suami dan istri untuk merealisasikan menabung yang efektif agar terhindar dari Hutang.

Masakan untuk bangun rumah

Banyak orang pusing kalau bikin rumah. Apalagi kalau dananya pas-pasan. Untuk kedua kalinya aku membuat rumah. Besarnya malah lebih besar dari rumah yang aku tinggali saat ini. Sempat pusing juga sih, tapi karena semangatnya memang demi orang tua, ya akhirnya dijalani aja.
Pagi-pagi udah sibuk nyiapin makanan untuk tukang/kenek. Padahal kadang aku sendiri makan sayurnya belom tentu mau. Masalahnya rasanya itu loh... Ha...3x. Tidak jelas apa rasanya. Tapi karena tukang nggak pernah protes jadi asal aja masaknya. Yang penting di meja makan ada nasi, lauk-pauk, dan sayur. Tapi lama-lama katanya enak sih.
Setiap sabtu pergi aku ke pasar beli sayur dll. Sampai2 aku tahu berapa harga sayuran di pasar. Padahal istriku nggak pernah ke pasar. huuui... pernah ketemu tukang mie tek - tek yang biasa keliling di depan rumah. Dia tanya, "Kemana emang ibunya ?" Aku bilang aja "Lagi report urus anak" he...3x.
Pengalaman kali ini lebih banyak manfaat di bagian masak2nya dibandingkan ilmu bangun rumahnya. Perencanaan bangun rumah yang detail, ternyata bisa membuat cashflow teratur dan yang penting lagi tidak ada hutang di material. Tinggal 10 hari lagi nih... Tanggal 10 sep mungkin pulang ke jawa anter tukang/kenek skalian silaturahmi di sana.