Thursday, September 07, 2006

Keharuan melihat kabah

Waktu itu sekitar jam 12-an malam tanggal 26 des 2005. Langkah kaki rombongan yayasan kami berjalan dari maktab menuju Masjidil Haram. Berjalan kaki lumayan jauh, sekitar 2 km. Kehidupan kota mekah malam itu seperti siang hari. Yang hilang malam itu adalah sedikitnya lalu lalang mobil2 macet.

Sembari melantunkan zikir, rombongan terus berjalan. Rasa heran menyelimuti hatiku. Rumah-rumah, toko-toko, dan mobil yang diparkir model arab. Banyak orang berdiri menawarkan barang padahal waktu itu sudah larut. Ada juga pengemis yang menadahkan tangan sembali berbicara "Fisabilillah". Tangan atau kaki yang buntung terlihat di setiap pengemis. Apakah mereka kena hukuman karena mencuri ? hmmmm... keadaan cacat yang membuat mereka mengemis.

Setelah berjalan sekitar 15 menit, mulailah terlihat sinar terang ke atas langit. Terdengar sayup-sayup suara orang membaca alquran. Aku melihat besarnya bangunan yang selama ini terpampang di gambar-gambar di rumah atau di masjid. Apabila melihat gambar, mungkin tidak ada pesona apapun. Tapi ini lain, aku melihat penuh keharuan. Dari halaman masjid, aku sudah mulai berdoa. Mataku tidak bergeming dan terdiam melihat keindahan bangunan itu. Ya allah berilah keagungan bagi Masjidil Haram dan keberkahan bagi siapapun yang mengunjunginya.

Beberapa saat kemudian, aku mulai masuk ke dalam masjid. Kaligrapi dan tiang-tiang tinggi menjulang ke atap. Lantai marmer yang mengkilap bersih, seperti setiap waktu dicuci/pel. Jumlah jamaah yang tidak pernah sepi. Ya allah, aku bersyukur telah bisa bersujud di dalam rumah mu baitullah. Setelah Shalat sunah tahiyatul masjid, aku berdoa. Tidak terasa meleleh air mata. Keharuan dan rasa syukur karena sudah diberikan kesempatan bisa bersyujud di Baitullah.

Setelah puas shalat sunah, aku dan rombongan mulai berjalan masuk lebih jauh lagi. Kulihat bangunan hitam yang selama ini terbayang-bayang pada saat shalat. Ya itulah Kabah... Tidak ada sepatah katapun yang keluar.... Sempat mataku dipejamkan karena tidak percaya. Tapi tetap saja keinginan ingin mendekat. Tapi saat itu tidak bisa karena banyaknya barisan orang-orang tawaf. Sambil berdiri aku berdoa, menangis dan sujud syukur karena untuk pertama kalinya dalam hidupku bisa bertemu langsung dengan rabbku...
Ya Allah Ampuni aku.... Aku datang kesini karena menunaikan kewajibanku....
Terimalah segala amal ibadahku...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home